Rabu, 30 November 2011

Dasar pengukuran psikologis

Dasar pengukuran psikologis 
Adalah dasar cara mengukur psikologis seseorang. bagaimana anda mengukur psikologis anda. disini cara anda mengukur bagaimana psikologis anda. baca di bawah ini.


BAB I
PEMBAHASAN

Segala sesuatu yang dipersoalkan dalam psikologi termasuk aspek-aspek psikologis atau atribut-atribut psikologis itu bersifat kualitatif. Atribut-atribut psikologis itu tidak mempunyai eksistensi riil, sehingga tidak dapat dikaji atau diketahui secara langsung, melainkan hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui gejalanya atau tampilannya(manifestasinya). Didalam tampilannya atau manifestasi itu sengaja ditimbulkan lalu dikuantifikasikan. Pembahasan lebih lanjutnya adalah:

A. KUANTIFIKASI ATRIBUT PSIKOLOGI
Contoh atribut-atribut psikologis yaitu mottivasi, minat, intelegensi, bakat, kemampuan bahasa inggris dan lain-lain kesemuanya itu adalah hal-hal yang bersifat kualitatif. Dalam suatu pengukuran hal-hal yang bersifat kualitatif itu dikuantifikasikann sehingga diperoleh berbagai keuntungan dan juga beberapa keterbatasan.
 
1. Keuntungan dan keterbatasan pendekatan kuantitatif
Keuntungan Pendekatan Kuantitatif
Dengan penerapan pendekatan kuantitatif, maka atribut-atribut psikologi yang aslinya bersifat kualitatif dikuantifikasikan, dan dengan cara ini diperoleh keuntungan-keutungan sebagai berikut :
 
1. Apabila atribusi psikologis telah dikuantifikasikan maka dia dapat dideskripsikan dengan jelas dan tepat, dan dengan demikian salah satu fungsi ilmu pengetahuan, yaitu mendeskripsikan fenomena dapat dilaksanakan dengan baik.
2. Dengan pendekatan kuantitatif itu ilmuan dipaksa mengikuti tata pikir dan tata kerja yang tertib, konsisiten, dan terbuka hal ini diperlukan guna memajukan ilmu pengetahuan baik dari segi teori maupun pengamalannya.
3. Apabila atribusi psikologis telah dikuantifikasikan, mungkin akan dianalisis dengan metode matematis(statistik) yang dalam ilmu pengetahuan diakui sebagai metode yang sangat kuat
4. Ilmuan dapat membuat prediksi mengenai bidang garapannya.
5. Derajat komunikabilitas menjadi tinggi, karena sebagai kegiatan yang terbuka untuk umum setiap pernyataan yang dikemukakan oleh seorang ilmuan harus dapat diuji ulang oleh ilmuan lain, dan hal ini sangat dipermudah kalau hal-hal yang dipersoalkan disajikan secara kuantitatif.
 
Keterbatasan pendekatan kuantitatif
Disamping keuntungan-keuntungan yang dimiliki, pendekatan kuantitatif jugan mempunyai keterbatasan, diantara keterbatasan utamanya adalah bahwa hasil kuantifikasi itu tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Data awal berupa data kuantitatif yang kemudian diolah, dianalisis dan diatur menurut kehendak ilmuan, jadi apabila data awalnya adalah data yang tidak mencerminkan data yang sebenarnya maka hasil analisis dan kesimpulannya akan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan seberapa besar penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya itu tidak dapat dideteksi.

2. Model Teoritis
Proses kuantifikasi harus bisa menjamin data yang dihasilkan mencerminkan keadaan yang sebenarnya, untuk itu sangat diperlukan suatu alat ukur yang dapat menjamin tercapainya kesesuaian antara data kauntitatif dan keadaan psikologis atribut psikologi yang diwakilinya. Didalam alat-alat psikologi yang penting untuk proses kuantifikasi itu, tersedia modelnteoritis ynag mendasaria perkembangan alat ukur psikologis itu. Dalam perkembangan model teoritisnya data yang digunakan terbatas pada : data hasil pengukuran hasil belajar, menggunakan alat non projektif, diselenggarakan secara kelompok, dan menggunakan pendekatan acuan norma.
 
a. Data pengukuran hasil belajar
Hasil belajar termasuk dalam kelompok atribut kognitif, yang ”Respon” hasil pengukuranya tergolong pendapat, yaitu respon yang dinyatakan benar apa salah.
 
b. Alat ukur non projektif
Pengukuran hasil belajar tidak menuntut terjadinya mekanisme projeksi, oleh karena itu materi alat ukurnya adalah meteri non projektif
 
c. Penyelenggarakn secara kelompok
data yang dikumpulkan diperoleh dari sekelompok subjek yang diperlukan secara sama. Karena sifatnya yang demikian maka data yang diperoleh dapat cukup banyak.
 
d. Pendekatan acuan norma
Hasil belajar suatu populasi subjek diasumsikan berdistribusi normal. Dan ini cocok dengan pendekatan acuan normal.dalam pendekatan ini tujuan pengukuran adalah untuk menentukan kedudukan relative masing-masing subjek didalam kelompoknya. Dengan pendekatan acuan normal ini diperoleh dua keuntungan penting dalam pengukuran psikologis, yaitu :
• Dapat diterapkan teori probabilitas
• Diperolehnya dasar untuk menyatakan adanya hubungan reclinear antara besaran hal ynag diukur dengan skor hasil pengukuran.

Data yang seperti diatas itulah yang digunakan untuk menyusun model teoritis pengukuran psikologis. Dewasa ini ada dua macam teori tentang pengukuran psikologis itu, yaitu teori tes klasik dan teoir tes modern

B. TES KLASIK
Teory tes klasik disebut demiokian, karena unsure-unsur teory itu sudah dikembangkan dan diaplikasikan sejak lama, namun tetap bertahan, lebih-lebih kalau dilihat dari arah penerapannya diberbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu teory ini dianggap sebagai hasil karya klasik teory tes klasik tidak tersusun sekali jadi, melainkan berkembang sedikit demi sedikit melalui unsure-unsur yang kemudian secara akumulatif merupakan bangunan teory yang utuh. Inti teory tes klasik itu berupa asumsi-asumsi yang dirumuskan secara sistematis. Modelnya disebut model skor murni(true skor model). Ada 7 macam asumsi dalam teory tes klasik itu.

1. Asumsi teory tes klasik
Asumsi 1: Xt = X. + Xe
Skor perolehan(Xt) terdiri dari skor murni (X.) dan skor kesalahan pengukuran (Xe).jadi skor yang diperoleh dari suatu pengukuran pada uumnya tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Skor perolehan pada umumnya meleset dari menampilkan secara tepat besaran atribut yang diukur. Melesetnya skor perolehan dari keadaan yang sebenarnya (yaitu skor murni X.)merupakan kesalahan pengukuran (error of measurement)
 
Asumsi 2 :ε (Xt) = X.
Nilai harapan skor diperoleh = ε (Xt) sama dengan skor murni. Asumsi 2 ini merupakan definisi skor murni (Xt). Skor murni itu adalah nilai rata-rata skor perolehan teoritis sekiranya dilakukan pengukuran yang berulang –ulang (sampai tak terhinggga) terhasdap seseorang dengan menggunakan alat ukur yang sama. Syarat pokok dalam pengukuran yang satu harus bebas dari hasil pengukuran yang lain .
 
Asumsi 3 Ρx●xe=0
Skor murni dan skor kesalahan yang divapai oleh suatu populasi subyek pada sautu tes tidak berkolerasi satu sama lain. jadi jadi tidak ada hubungan sistematik antara skor murni dan skor kesalahan. Subyek yang tinggi skor murninnya tidak mesti mempunyai skor kesalahan (baik positif maupun negative) yang lebih tinggi disbanding subyek yang rendah skor murninnya.
 
Asumsi 4 ρXe1 Xe2=0
Skor-skor kesalahan pada 2 tes (yang dimaksud untuk mengukur hal yang sama ) tidak saling berkorelasi. Jika seseorang mempunyai skor kesalahan positif pada tes 1, maka skor kesalahan pada tes 2 tidak tentu positif. Asumsi ini akan tidak terpenuhi sekiranya skor perolehan dipengaruhio kondisi testing.
 
Asumsi 5: ρXe1 X.2=0
Jika ada 2 tes yang dimaksudkan untuk pengukuran atribut yang sama, maka skor-skor kesalahan pada tes 1(Xe1) tidak berkorelasi dengan skor-skor murni pada tes 2(X.1)
 
Asumsi 6
Jika dua perangkat tes (yang dimaksudkan untuk mengukur atribut yang sama) mempunya skor perolehan Xt dan Xt’ yang memenuhi asumsi –asumsi 1 sampai 5, dan jika setiap populasi subyek X. =X.’ dan σe² = σe’’², maka kedua tes itu disebut tes pararel. Jadi dua perangkat tes akan merupakan tes perarel kalu skor –skor suatu populasi yang menempuh kedua tes itu skor murninya sama (X. =X.)dan varian skor kesalahannya sama σe² = σe’’²
 
Asumsi 7
Jika dua perangkat tes (yang dimaksud untuk atribut yang sama) mempunyai skor-skor perolehanX11 dan X12 yang subyek X.=X.2+C12 adalah suatu konstanta, maka kedua perangkat tes itu disebut tes-tes yang setara (equivalen test)
 
2. Kesimpulan-kesimpulan teory tes klasik
Teory tes klasik, yang dirumuskan dalam bentuk asumsi-asumsi seperti yang telah disajikan dimuka, memungkinkan penarikan atau penjabaran sejumlah kesimpulan. Hanya sebagaian saja dari kesimpulan-kesimpulan itu yang disajikan disini, dipilih terutama yang berkaitan langsung dengan pengembangan alat ukur psikologis.
 
  • Kesimpulan 1: ε = (Xe)=0
Nilai harapan skor-skor kesalahan seorang subyek = 0. jika seseorang dites denga suatu tes yang sam berulang-ulang (sampai tidak terthingga) maka rata-rata skor-skor kesalahannya akan sama dengan 0. karena skor-skor kesalahan terjadi secara acak, maka yang meleset ke atas dan meleset kebawah akan saling meniadakan satiu sama lain.
  • Kesimpulan 2 : ε = (XeX.)=0
Nilai harapan hasil skor-skor kesalahan dan skor-skor murni sama dengan 0. kovarians antara skor kesalahan dan skor murni, yang sama dengan ε (XeX.) ε (Xe) ε(X.) juga sama dengan 0
  • Kesimpulan 3 :σ = σ + σ
Varians skor-skor perolehan sama dengan varians skor-skor murni ditambah varians skor-skor kesalahan. Jika skor perolehan, skor murni, dan skor kesalahan suatu populasi pada suatu tes diperoleh, maka varians skor-skor perolehan (yang sering juga disebut varians total )akan sama dengan varians skor-skor murni ditambah varians skor-skor kesalahan.
  • Kesimpulan 4
Kuadrat korelasi antara skor-skor perolehan san skor-skor murni sama dengan nisbah antara varians skor-skor murni dan varians skor-skor perolehan. Kesimpulan ini kemudian menjadi sangat penting dalam pembicaraan tentang reabilitas tes.
  • Kesimpulan 5
Kuadrat korelai antara skor-skor perolehan dengan skor-skor murni sama dengan 1 dikurangi nisbah antara varians skor-skor kesalahan dengan varians skor-skor perolehan. Kesimpulan ini sebenarnya membicarakan hal yang sama dengan yang dibicarakan kesimpulan 4.
  • Kesimpulan 6
Korelais antara skor-skor pada 2 tes pararel sama dengan nisbah antara varians skor-skor murni dan skor-skor perolehan ditentukan berdasarkan tes yang manapun.
  • Kesimpulan 7
Korelasi antara skor-skor pada 2 tes pararel sama dengan 1 dikurangi nisbah antara varians skor-skor kesalahan dengan varians skor-skor perolehan.
Demikianlah beberapa kesimpulan yang ditarik atau dijabarkan dari teory tes klasik. Walau diakui teory tes klasikmengandung keterbatasan, namun dalam kenyataananya teory ini masih bertahan sebagai dasar pengembangan tes dimana-mana.

C. Teori Tes Modern
Kelemahan utama teori tes klasik adalah bahwa alat ukur yang disusun berdasarkan teori tes klasik itu terikat kepada semua sampel (sample bound). Jika seperangkat tes diberikan kepada kelompok subyek yang rendah kemapuanya akan merupakan tes yang sukar, dan apabila diberikan kelompok subyek yang tinggi kemapuanya akan merupakan tes yang mudah. Oleh karena itu upaya-upaya yang dilakukan para ahli adalah untuk membebaskan alat ukur itu dari keterikatanya kepada sampel (sample-free); seperti diketahui alat ukur fisik, misalnya alat ukur panjang, alat ukur berat, semuanya tidak terikat kepada sampel.
 
1. Dasar Pikiran pada Teori Tes Modern
Teori tes yang mendasarkan diri pada sifat-sifat atau kemapuan yang laten, yang mendasari kinerja atau respon subyek terhadap butir soal tertentu. Karena itu teori ini disebut mengunakan model sifat laten. Nama yang lebih popular adalah teori respon butir soal atau item respon theory (IRT). Teori respon butir soal itu berdasarkan dua postulat, yaitu:
 
a) Kinerja seorang subyek pada butir soal dapat diprediksikan dari suatu perangkat factor-faktor yang disebut sifat-sifat, atau sifat-sifat laten, atau kemapuan
b) Hubungan antara kinerja subyek pada suatu butir soal dan perangkat sifat-sifat yang mendasari kinerja itu dapat di deskripsikan dengan fungsi meningkat secara monotonic yang disebut karakteristik butir soal atau kurve karakteristik butir soal.
 
2. Asumsi-Asumsi Pada Teori Tes Modern
Suatu asumsi-asumsi yang umum digunakan secara luas oleh model-model IRT ialah bahwa hanya satu kemampuan yang diukur oleh butir-butir soal yang merupakan seperangkat tes. Hal ini disebut asumsi unidimensionalitas. Suatu konsep lain yang langsung berkaitann dengan unidimensionalitas adalah ketidaktergantungan local. Asumsi lain yang dibuat dalam semua model IRT adalah bahwa fungsi karakteristik butir soal tertentu merefleksikan butir soal tertentu merefleksikan hubungan yang sebenarnya antara variable-variable yang tidak dapat di observasi dengan variable-variabel yang dapat di observasi yaitu respon terhadap butir soal.
 
3. Model-model Yang Populer Dalam Teori Respons Butir Soal
Secara teori dapat disusun model-model IRT yang sangat besar jumlahnya, namun didalam praktek hanya tiga model yang popular, yaitu:
a) Model logistic atau parameter
b) Model logistic dua parameter
c) Model logistic tiga parameter
D. Reliabilitas Alat Ukur
 
Reliabilitas alat ukur menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hal ini ditunjukkan oleh taraf keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh para subyek yang diukur dengan alat yang sama, atau diukur dengan alat yang setaara pada kondisi yang berbeda. Dalam arti yang lebh luas reliabilitas adalah alat ukur menunjuk kepada sejauh mana perbedaan-perbedaan skor perolehan itu mencerminkan perbedaan-perbedaan atribut yang sebenarnya. Hal inilah yang menuntun kepada definisi dasar reliabilitas tes, yaitu:
σ.2

σ t 2
 
Reliabilitas tes adalah proporsi varians skor perolehan yang merupakan varians skor murni, jadi kembali kepada uraian terdahulu, bahwa Xt = X. + Xe skor perolehan terdiri dari skor murni dan kekeliruan pengukuran serta, σ t2 = σ.2 + σe2 , varians skor perolehan (varians total) σ .2 ditambah varians kekeliruan pengukuran σe2. Karena realibilitas alat ukur itu berkenaan dengan derajat konsistensi atau kesamaan antara dua perangkat skor, maka dia dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi (r).
 
Estimasi Reliabilitas
Reliabilitas alat ukur yang juga menunjukkan derajat kekeliruan pengukuran tak dapat ditentukan dengan pasti, melainkan hanya dapat diestimasi. Ada tiga pendekatan dala mengestimasi reliabilitas alat ukur itu, yaitu (a) pendekatan tes ulang
(b) pendekatan dengan tes paralel, dan
(c) pendekatan satu kali pengukuran.
 
1. Pendekatan Tes Ulang
Suatu perangkat tes diberikan kepada sekelompok subjek dua kali, dengan menghitung korelasi antara skor pada testing I dan skor pada testing II, jadi rtt = rI.II. Pendekatan ini secara teori baik, namun didalam praktek mengandung kelemahan, yaitu bahwa kondisi subjek pada testing II tidak lagi sama dengan kondisi subjek pada testing I, karena terjadinya proses belajar, pengalaman, perubahan motivasi dan sebagainya. Karena itu pada kebanyakan penelitian pendekatan ini tidak digunakan. Pendekatan tes ulang sangat sesuai jika yang dijadikan objek pengukuran adalah keterampilan fisik.
 
2. Pendekatan dengan Tes Paralel
Dua perangkat tes yang paralel, misalnya perangkat A dan perangkat B diberikan kepada sekoelompok subjek. Reliabilitas tes dicari dengan menghitung korelasi antara skor pada perangkat A dan skor pada perangkat B, jadi rtt = rAB. Keterbatasan utama pendekatan ini terletak pada sulitnya menyusun dua perangkat tes yang paralel. Seperti telah diuraikan pada teori tes klasik, bahwa dua perangkat tes akan merupakan dua perangkat tes yang paralel kalau memenuhi sejumlah persyaratan (asumsi). Karena itu dalam praktek pendekatan ini juga tidak banyak digunakan.
 
3. Pendekatan Satu Kali Pengukuran
Seperangkat tes diberikan kepada sekelompopk subjek satu kali, lalu dengan cara terrtentu dihitung setimasi reliabilitas tes tersebut. Pendekatan pengukuran satu kali ini dapat menghindarkan diri dari kesulitan yang timbul dari pendekatan dengan pengukuran ulang maupun pendekaatan dengan tes paralel, oleh karena itu pendekatan ini banyak digunakan. Teknik-teknik estimasi reliabilitas yang akan disajikan berikut ini semuanya menggunakan pendekaatan pengukuran satu kali.

Berbagai Teknik Estimasi Reliabilitas
Seperti telah dikemukakan, definisi dasar reliabilitas adalah
σ.2

σ t 2
karena σ t2 = σ.2 + σe2, maka persamaan mengenai reliabilitas itu dapat diubah menjadi

σt2 – σe2

σ t 2
Berbagai rumus yang dikemukakan oleh para ahli psikometri justru mencari estimasi mengenai varians kekeliruan pengukuran σe2 itu. Ada tujuh teknik yang populer dan banyak digunakan untuk mengestimasi reliabilitas itu, yaitu:
 
1. Teknik Belah Dua
Suatu perangkat tes diberikan kepada kelompok subjek satu kali. Teknik belah dua seriang disebut dengan teknik gasal-genap. Karena kelompok gasal ( ) dijadikan satu dan genap dijadikan satu juga. Estimasi reliabilitas dicari dengan menghitung korelasi skor pada belahan pertama dengan skor pada belahan kedua, . Rumus korelasi


Secara umum dapat dikatakan bahwa makin panjang tes, akan makin tinggi koefisien reliabilitasnya, asalkan soal-soal yan dicakup sama mutunya. Oleh karena itulah rumus spearman-brown itu juga dikenal dengan rumus ramalan.


Keterangan :
koefisien reliabitas tes yang baru
n = berapa kali panjang tes yang baru itu dari panjang tes yang telah ada
koefisien reliabilitas tes yang telah ada
 
2. Rumus Rulon
Rulon (1939) mempersoalkan reliabilitas tes yang telah dibelah menjadi 2 belahan. Jika sekiranya kedua belahan tes itu setara maka secara teori skor seseorang pada perangkat belahan pertama dan skor pada perangkat belahan kedua akan sama. Jika skor-skor pada kedua perangkat itu tidak sama, maka itu terjadi karena kesalahan/ kekeliruan pengukuran. Rumus realibilitas tes sebagai berikut :
Keterangan :
= koefisien reliabilitas
= varian perbedaan skor pada kedua belahan tes (yang dianggap sebagai varians kekeliruan pengukuran
= varians total (skor perolehan)
 
3. Rumus Flanagan
Flanagan menganggap bahwa varians-varians pada perangkat-perangkat belahan tes yang merupakan varians kekeliruan pengukuran.


4. Teknik K
Dengan menggunakan statistic soal mereka mengembangkan teknik-teknik untuk mengestimasi reliabilitas tes yang diterbitkan di psychometrika. Rumus yang mereka ajukan lazimnya di beri momor seperti halnya rumus ini.



5. Teknik K
Rumus K hanya sedikit berbeda dari rumus K . Estimasi varians kekeliruan pengukuran dicari melalui produk rata-rata p kali rata-rata q di kali dengan banyaknya soal, jadi

6. Teknik analisi varians
Dalam karya hoyt itu varians total dianalisis menjadi proposi yang berasal dari peserta tes, proporsi yang berasal dari soal-soal tes, dan sisanya. Rumus :
7. Koefisien alpha

BAB 1 PENDAHULUAN


A.      Pengertian Statistik
Pada Konsep yang lebih modern, statistik diartikan sebagai suatu metode dan prosedur yang digunakan untuk melakukan pengumpulan, pengolahan, penafsiran dan penarikan kesimpulan pada data hasil-hasil penelitian.

B.       Peranan Statistik dalam Penelitian
-          Memberikan teknik-teknik yang tepat dalam pengumpulan, pengklasifikasian dan penyajian data, sehingga hasil-hasil penelitian lebih mudah dimengerti.
-          Memberikan suatu ukuran yang dapat mensifati populasi, menyatakan variasi dan memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kecenderungan-kecenderungan suatu variabel.
-          Digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan hubungan serta tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih.
-          Meningkatkan kecermatan peneliti dalam menguji hipotesis.

C.       Statistik Deskriptif dan Induktif
Berdasarkan cara yang dilakukan, statistik dapat dibagi menjadi dua bagian :
1.       Statitik Deskriptif
Adalah bagian dari statistik yang membahas mengenai penyusunan data kedalam daftar, grafik, atau bentuk yang lain yang yang sama sekali tidak menyangkut penarikan kesimpulan.
2.       Statistik Induktif
Dipakai sebagai metode yang dimaksudkan untuk menarik keesimpulan dari sekumpulan data yang telah disusun dan diolah sebelumnya.
Di sebut juga dengan statistik inferensial. Kurang lebih sama, yaitu statistik yang digunakan untuk menarik sebuah kesimpulan tentang keadaan populasi atau parameter berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian.


Ada dua jenis statistik inferensial, yaitu statistik parametrik dan statistik non parametrik.
·         Statistik Parametrik
Adalah suatu prosedur pengambilan kesimpulan statistik yang didasarkan pada asumsi ciri- ciri populasi (perameter).
·         Statistik Non-Parametrik
Adalah suatu prosedur pengambilan kesimpulan yang tidak didasarkan pada asumsi- asumsi parameter.

D.      Dasar- dasar Analisis Data
1.       Data dan Variabel Penelitian
Data dapat diartikan sebagai keterangan mengenai sesuatu.
·         Data Kuantitatif
Keterangan yang berupa angka.
·         Data Kualitatif
Keterangan yang bukan bilangan atau bukan dalam bentuk angka.
Variabel diartikan sebagai suatu konsep yang mempunyai variasi dan keragaman. Variabel adalah segala sesuatu yang bervariasi.
o    Variabel Bebas (disebut juga variabel pengaruh, variabel perlakuan, variabel kuasa, variabel treatment, independent variabel atau biasa disingkat variabek X)
Adalah suatu variabel yang apabila dalam suatu waktu berada bersamaan dengan variabel lain, maka variabel lain itu (diduga) akan berubah dalam keragamannya.
o    Variabel Terikat (disebut juga sebagai variabel tergantung, variabel efek, variabel tak bebas, variabel terpengaruh atau dependent variabel atau biasanya diberi lambang sebagai variabel Y)
Adalah variabel yang berubah karena pengaruh variabel bebas.
o    Variabel kontrol (disebut juga variabel kendali, variabel konkomitan dan kovariabel)
Berfungsi untuk memurnikan hasil hubungan atau pengaruh antara variabel bebas tehadap variabel terikat dan variabel- variabel lain. Juga menyingkirkan pengaruh- pengaruh variabel, selain variabel bebas yang diduga mengotori hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat.
Apabila ditinjau dari tingkat pengukurannya (level of measurement) variabel atau data terdiri dari 4 macam, yaitu :
1.       Data Nominal
Disebut juga data diskrit adalah suatu data yang hanya dapat digolong- golongkan secara terpisah, secara diskrit, secara kategorik dan lebih merupakan sebuah lambang dari suatu kategori.
Ex. Data nominal merupakan data yang bervariasi menurut jenisnya; misal jenis kelamin laki- laki dan wanita, pekerjaan dapat digolongkan secara terpisah menjadi pegawai negeri, pedagang, dokter, petani, buruh dan sebagainya. Suku, golongan darah, jenis penyakit, bentuk dan kostitusitubu termasuk kedalam data nominal.
Data nominal sering juga disebut dengan data enumerasi. Karena apa yang dapat dilakukan terhadap data nominal hanya semata-mata menghitung banyaknya subjek atau pendukung tiap-tiap kategori data tersebut.
Penelitian terhadap data nominal mempunyai kegunaan yang terbatas dan menjadi ciri pokok dari penelitian penelitian eksploratif dan study-study pendahuluan yang maksudnya hanya semata-mata mencari hubungan tanpa lebih jauh melihat taraf besar kecilnya suatu ciri yang terdapat pada gejala tersebut. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk penelitian data nominal, antara lain; korelasi kotigensi, phi atau chi-square.

2.       Data Ordinal
Ordinal adalah angka yang menunjukan posisi dalam urutan-urutan dalam suatu seri. Disebut juga data berjenjang. Angka tidak digunakan sebagai lambang, namun sebagai gradasi atau perbedaan tingkat.
Ex. Juara 1, 2, 3 atau rangking 1, 2, 3.
Pada pokoknya variabel mempunyai nilai tertinggi diberi tingkatan tertinggi  dan nilai paling rendah diberi tingkatan terendah.
Pada data ordinal adalah hanya membandingkan nilai-nilai tersebut lebih tinggi, sama atau lebih rendah dibanding nilai-nilai yang lainnya, dengan tidak memperhatikan jarak antara nilai-nilai variabel yang diukur. Metode yang dapat digunakan untuk analisis data ordinal antara lain; median, persentil dan teknik korelasi tata jenjang dari Spearman.

3.       Data Interval
Pada data interval kita menghadapi angka skala yang batas variasi nilai satu dengan yang lainnya sudah jelas, sehingga jarak atau intervalnya dapat dibandingkan.
Ex. Indeks prestasi, produktifitas kerja, skor kecemasan, skor stres, besarnya minat, tingkat kecerdasan dan sebagainya.
Hampir semua teknik statistik dapat digunakan untuk menganalisis data yang berjenis interval, misalnya; mean, standar deviasi, analisis varian, t-test dan juga korelasi productmoment.

4.       Data Rasio
Merupakan pengukuran yang paling tinggi dan pling ideal. Memiliki batasan interval yang jelas, juga variasi nilainya mempunyai batas yang tegas dan memiliki titik nol yang mutlak.
Ex. Ukuran panjang, tinggi, berat, luas, usia, kadar zat, jumlah sel, ukuran-ukuran antropometrik dan sebagainya.
2.       Hipotesis
Hipo yang berarti lemah dan tesis yang artinya pernyataan. Sehingga hipotesis dapat diartikan sebagai suatu dugaan sementara yang diajukan seorang peneliti yang berupa pernyataan-pernyataan untuk diuji kebenarannya.
·         Hipotesis Nihil (disebut juga hipotesis nol, hipotesis statistik, disingkat Hₒ)
Adalah sebuah pernyataan  yang menyatakan tidak adanya hubungan, perbedaan atau pengaruh antara dua variabel atau lebih. Disebut hipotesos statistik karena yang diuji kebenarannya melalui statistik di dalam penelitian adalah hipotesis nihil.
·         Hipotesis Kerja (disebut juga hipotesis alternatif  atau hipotesis satu disingkat H₁)
Adalah sebuah pernyataan yang menyatakan adanya perbedaan, pengaruh atau hubungan antara dua variabel atau lebih.
Di dalam penelitian hanya ada satu hipotesis yang benar, yaitu hipotesis yang terbukti atau yang diterima saja. Pembuktian penerimaan hipotesis ini ditunjukan oleh tingkat atau taraf kemaknaan (taraf signifikansi) hasil uji statistik yang diperoleh dalam penelitian.
Ø  Apabila hipotesis kerja diterima, maka hipotesis nihil ditolak.
Ø  Apabila hhipotesis kerja ditolak maka hipotesis nihil diterima.
Ø  Dapat secara bersama-sama diterima apabila hasil dari kedua signifikansinya bermakna, dan sebaliknya dapat juga secara bersama-sama ditolak jika kedua taraf signifikansi tersebut hasil statistiknya tidak bermakna.

3.       Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh individu yang dimaksudkan untuk diteliti dan yang nantinya akan dikenai generalisasi. Generalisasi adalah suatu cara pengambilan kesimpulan terhadap kelompok individu yang lebih luas jumlahnya berdasarkan data yang diperoleh dari sekelompok individu yang sedikit jumlahnya. Sebagian individu yang dijadikan wakil dalam penelitian disebut sampel.
Sampel yang baik (biasa disebut sampel  yang mewakili atau refresentatif) adalah sampel yang anggota-anggotanya mencerminkan sifat dan ciri-ciri yang terdapat pada populasi.
Apabila sampel tidak refresentatif, maka secara ilmiah tidak ada hak bagi peneliti untuk menarik kesimpulan, kecuali kesimpulan yang berlaku untuk sampel itu sendiri.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel adalah mengetahui terlebih dahulu karakteristik, ciri dan sifat populasi. Karena ada kalanya sampel harus diambil dari jumlah yang sangat besar bila menghadapi populasi yang memiliki  sifat heterogen, dan mungkin akan mengambil sampel dengan jumlah sampel yang sedikit bila sifat populasinya sangat homogen.

Beberapa teknik dalam statistik untuk mendapatkan sampel yang refresentatif, yaitu : teknik smpel proporsionall, stratifikasi, purposif, quota, insidental, area, kluster, ganda, random, non random dan sampel kombinasi.
a)       Teknik Sampel Proporsional
Diambil apabila terdiri dari kategori-kategori, kelompok, atau golongan yang setara atau sejajar yang diduga secara kuat berpengaruh pada hasil-hasil penelitian. Prosedur yang dilakukan dengan jalan mengambil individu yang terdapat dalam masing- masing kategori populasi sesuai dengan proporsi atau perimbangannya untuk dijadikan sampel penelitian.
b)       Teknik Sampel Stratifikasi
Digunakan apabila populasi terdiri dari kategori-kategori yang mempunyai susunan bertingkat dan diduga bahwa tingkatan-tingkatan tersebut berpengaruh pada variabel yang diteliti. Prosedur yang dilakukan sama seperti pengambilan sampel pada teknik Proporsional.
c)        Teknik Sampel Purposif
Dikenakan pada sampel yang karakteristiknya sudah ditentukan dan diketahui lebih dulu berdasarkan ciri dan sifat populasinya.
d)       Teknik Sampel Quota
Dilakukan dengan jalan menetapkan terlebih dahulu quota atau jumlah individu yang akan diteliti, tnpa memperhatikan siapapun yang akan diteliti asalkan individu yang akan diteliti itu sesuai dengan kriteria atau persyaratan yang ditetapkan sebelumnya.
Banyak kritik untuk teknik ini, karena ini tidak memenuhi persyaratan tuntutan representatifitas sampel.
e)       Teknik Sampel Insidental
Disebut juga teknik kebetulan. Anggota sampel adalah apa atau siapa saja yang kebetulan dijumpai peneliti saat melakukan penelitian, asalkan ada hubungan dengan tema penelitiannya.
Para ahli menyarankan untuk tidak menggunakan teknik ini dalam penelitian-penelitian ilmiah, karena teknik ini menghasilkan jenis sampel yang paling meragukan representatifitasnya.
f)        Teknik Sampel Area
Disebut juga dengan teknik wilayah atau daerah. Dilakukan dengan jalan membagidaerah-daerah besar menjadi beberapa daerah kecil dan mungkin daerah-daerah kecil itu akan dibagi menjadi daerah-daerah yang lebih kecil lagi.
g)       Teknik Sampel Kluster
Disebut juga teknik kelompok atau rumpun, dilakukan dengan jalan memilih sampel yang didasarkan pada klusternya bukan pada individunya. Oleh karena itu kesimpulan pada teknik kluster tidak digeneralisasikan pada individu-individu melainkan pada kluster atau kelompoknya.
h)       Teknik Sampel Ganda
Disebut juga dengan teknik sampel kembar, yaitu suatu teknik pengambilan sampel yang dilakukan dengan menetapkan dua kelompok sampel yang sama karakteristiknya, dalam mana kelompok sampel yang kedua dijadikan pelengkap atau pengontrol bagi sampel kelompok pertama.
Sering digunakan untuk keperluan penghitungan validitas suatu alat tes, yaitu dengan menggunakan data yang diperoleh dari sampel kelompok kedua sebagai kriterium bagi data yang diperoleh dari sampel kelompok pertama.
i)         Teknik Sampel Random
Dilakukan dengan jalan memberikan kemungkinan yang sama bagi individu yang menjadi anggota populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel penelitian. Teknik ini menerapkan azas tanpa pilih-pilih. Ada 3 cara; undian, ordinal dan tabel bilangan random.
j)         Teknik Sampel Non-Random
Merupakan kebalikan dari teknik random, dimana individu yang menjadi anggota populasi tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk dijadikan anggota sampel penelitian.
k)       Teknik Sampel kombinasi
Di dalam penelitian digunakan lebih dari satu macam teknik sampel. Misalkan, jika teknik stratifikasi digabung dengan random maka nama sampelnya adalah random stratifikasi.

4.       Interpretasi Uji Statistik
Salah satu tugas statistik dalam penelitian adalah sebagai alat untuk menarik kesimpulan tentang keadaan populasi (parameter) berdasarkan data yang diperoleh dari sampel.
·         Penarikan kesimpulan
Dilakukan dengan jalan melakukan interpretasi (penafsiran) pada hasil uji statistik
·         Interpretasi hasil uji statistik
1.       Dilakukan dengan jalan membandingkan nilai statistik yang diperoleh (nilai empirik) dengan nilai statistik yang tertera di dalam tabel signifikansi (nilai teoritik).
* Nilai Empirik mampu = atau > Nilai Teoritik, maka dikatakan signifikan (bermakna atau berarti)
Artinya bahwa hasil uji statistik itu bermakna bukan hanya pada sampelnya saja tetapi juga bisa (untuk generalisasi) pada populasinya.
        * Nilai Empirik tidak mampu = atau < Nilai Teoritik, maka dikatakan tidak signifikan (tidak bermakna atau tidak berarti)
Hasil yang tidak signifikan tidak dapat digunakan sebagai dasar generalisasi pada populasi.
2.       Melihat taraf kemaknaan yang ditunjukan olehindeks kesalahan yang mungkin terjadiyang disebut dengan probabilitas error (error probability). Probabilitas bisa disingkat dengan p.e atau p saja. Taraf kemaknaan secara konvesional berkisar antara 0,05 sampai 0,01.
Ex. Apabila dari hasil uji statistik didapat harga p = > 0,05, maka berarti tidak signifikan. Harga p = 0,05 berarti signifikan dan p < 0,01 berrarti sangat signifikan.
Harga p ini akan muncul secara otomatis bila penghitungan statistik menggunakan fasilitas komputer.