Selasa, 13 Desember 2011

Rangkuman Perkuliahan Psikopatologi Semester 3


Materi perkuliahan ini hanya sebatas pengertian dan subtipe-subtipe dari beberapa gangguan yang menjadi materi perkuliahan di semester tiga. 



Psikopatologi
1.        RM (Retardasi Mental)
Adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap atau mungkin juga tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak seusianya. Biasanya ditandai dengan oleh adanya ketidakberdayaan keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat inteligensi anak itu sendiri yaitu pada kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial anak.
Bukan suatu penyakit, melainkan suatu kondisi yang timbul pada usia dini (biasanya sejak lahir) dan menetap sepanjang hidup individu tersebut.


2.        CD & ODD

a.        Oppositional Defiant Disorder (ODD)
Adalah pola tingkah laku berulang yang negatif, menantang, dan tidak taat. Anak yang menderita Oppositional defiant disorder adalah keras kepala, sulit diatur, dan tidak patuh tanpa menjadi agresif secara fisik atau benar-benar mengganggu orang lain. Banyak anak yang belum sekolah dan anak pra remaja kadangkala menunjukkan tingkah laku yang melawan, tetapi
Ciri khas tingkah laku pada anak yang menderita Oppositional defiant disorder termasuk berdebat dengan orang dewasa; menjadi marah ; secara aktif menentang aturan dan perintah; menyalahkan orang lain untuk kesalahan mereka sendiri; dan menjadi marah, sebal, dan mudah jengkel. Anak ini tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah dan merasa bersalah jika mereka melakukan sesuatu yang sangat salah.

b.        Conduct Disorder (CD)
Adalah pola perilaku yang berulang dan terus-menerus di mana hak-hak orang lain dan norma/aturan dilanggar, yang dimanifestasikan oleh adanya 3 atau lebih kriteria di bawah ini dalam waktu 12 bulan, dan sekurang-kurangnya 1 kriteria yang muncul dalamwaktu 6 bulan.


3.        Gangguan Penyesuaian
Adalah gangguan psikologis yang paling ringan dan merupakan suatu reaksi maladaptive (tidak bereaksi terhadap lingkungan) suatu stressor yang dikenali dan berkembang beberapa bulan sejak munculnya stressor. Reaksi maladaptive terlihat dari adanya hendaya yang bermakna (signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, akademis, atau adanya kondisi distress emosional yang melebihi batas normal.


4.        Gangguan Somatoform
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis.


a)        Gangguan Nyeri
Pada pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang mengakibatkan ketidakmampuan secara signifikan;faktor psikologis diduga memainkan peranan penting pada kemunculan, bertahannya dan tingkat sakit yang dirasakan. Pasien kemungkinan tidak mampu untuk bekerja dan menjadi tergantung dengan obat pereda rasa sakit. Rasa nyeri yang timbul dapat berhubungan dengan konflik atau stress atau dapat pula terjadi agar individu dapat terhindar dari kegiatan yang tidak menyenangkan dan untuk mendapatkan perhatian dan simpati yang sebelumnya tidak didapat.

b)        Gangguan Dismorfik Tubuh
Pada body dysmorphic disorder, individu diliputi dengan bayangan mengenai kekurangan dalam penampilan fisik mereka, biasanya di bagian wajah, misalnya kerutan di wajah, rambut pada wajah yang berlebihan, atau bentuk dan ukuran hidung. Wanita cenderung pula fokus pada bagian kulit, pinggang, dada, dan kaki, sedangkan pria lebih cenderung memiliki kepercayaan bahwa mereka bertubuh pendek, ukuran penisnya terlalu kecil atau mereka memiliki terlalu banyak rambut di tubuhnya (Perugi dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Beberapa individu yang mengalami gangguan ini secara kompulsif akan menghabiskan berjam-jam setiap harinya untuk memperhatikan kekurangannya dengan berkaca di cermin. Ada pula yang menghindari cermin agar tidak diingatkan mengenai kekurangan mereka, atau mengkamuflasekan kekurangan mereka dengan, misalnya, mengenakan baju yang sangat longgar (Albertini & Philips daam Davidson, Neale, Kring, 2004).

c)        Hipokondriasis
Hypochondriasis adalah gangguan somatoform dimana individu diliputi dengan ketakutan memiliki penyakit yang serius dimana hal ini berlangsung berulang-ulang meskipun dari kepastian medis menyatakan sebaliknya, bahwa ia baik-baik saja. Gangguan ini biasanya dimulai pada awal masa remaja dan cenderung terus berlanjut. Individu yang mengalami hal ini biasanya merupakan konsumen yang seringkali menggunakan pelayanan kesehatan; bahkan terkadang mereka manganggap dokter mereka tidak kompeten dan tidak perhatian (Pershing et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Dalam teori disebutkan bahwa mereka bersikap berlebihan pada sensasi fisik yang umum dan gangguan kecil, seperti detak jantung yang tidak teratur, berkeringat, batuk yang kadang terjadi, rasa sakit, sakit perut, sebagai bukti dari kepercayan mereka. Hypochondriasis seringkali muncul bersamaan dengan gangguan kecemasan dan mood.

d)        Conversion disorder
Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti hilangnya penglihatan atau kelumpuhan secara tiba-tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan rusaknya sistem saraf, padahal organ tubuh dan sistem saraf individu tersebut baik-baik saja. Aspek psikologis dari gejala conversion ini ditunjukkan dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini muncul secara tiba-tiba dalam situasi yang tidak menyenangkan. Biasanya hal ini memungkinkan individu untuk menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab atau individu sangat ingin mendapatkan perhatian. Istilah conversion, pada dasarnya berasal dari Freud, dimana disebutkan bahwa energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek sensori-motor dan mengganggu fungsi normal. Untuk itu, kecemasan dan konflik psikologis diyakini dialihkan pada gejala fisik.

e)        Gangguan Somatisasi
Menurut DSM-IV-TR kriteria dari somatization disorder adalah memiliki sejarah dari banyak keluhan fisik selama bertahun-tahun; memiliki 4 gejala nyeri, 2 gejala gastrointestinal, 1 gejala sexual, dan 1 gejala pseudoneurological; gejala-gejala yang timbul tidak disebabkan oleh kondisi medis atau berlebihan dalam memberikan kondisi medis yang dialami.
Prevalensi dari somatiation disorder diperkirakan kurang dari 0.5% dari populasi Amerika, biasanya lebih sering muncul pada wanita, khususnya wanita African American dan Hispanic (Escobar et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004) dan pada pasien yang sedang menjalani pengibatan medis. Prevalensi ini lebih tinggi pada beberapa negara di Amerika Selatan dan di Puerto Rico (Tomassson, Kent&Coryell dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Somatizaton disorder biasanya dimulai pada awal masa dewasa (Cloninger et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).















5.        Gangguan Kecemasan
Adalah saat dimana individu tidak dapat meredam (merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyakan orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.

6 Bentuk gangguan kecemasan:
1)        Generalized Anxiety Disorder (GAD)
Ciri-ciri umumnya sih sebenernya sama kayak cemas biasa. Yang bikin beda adalah, penderita generalized anxiety disorder cemasnya terus menerus. Hampir sepanjang hari dia habiskan untuk mencemaskan hal-hal yang sebenarnya nggak perlu. Akibatnya, dia jadi nggak bisa menjalankan hidup dengan normal. Boro-boro mau mikirin pelajaran, tiap saat otaknya selalu dipenuhi pikiran-pikiran buruk yang bikin dia selalu khawatir.
2)        Social Anxiety Disorder (SAD)
Disebut juga social phobia, orang yang mengidap gangguan ini bakal ngerasa takut banget kalo harus berinteraksi dengan orang lain. Dia takut dicap buruk oleh orang lain dan dipermalukan di depan umum. So, dia lebih memilih menghindar dari lingkungannya.
3)        Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Ini adalah gangguan kecemasan yang muncul gara-gara seseorang baru mengalami sebuah peristiwa yang traumatis.
4)        Panic Disorder (PD)
Lagi nggak ngapa-ngapain, tiba-tiba aja lo kena “serangan”. Dada berdegup kencang, kepala pusing, mata berkunang-kunang, nafas jadi sesak, dan merasa seperti mau mati atau mau gila. Itu namanya panic attack. Kalo serangan ini terjadi berulang-ulang, namanya panic disorder.
5)        Obsessive Compulsive Disorder (OCD)
Penderita OCD biasanya ngerasa harus melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas, dan nggak bisa dikontrol. Misalnya, belasan kali mengecek apakah lampu kamar udah dimatikan atau belum. Atau mencuci tangan berkali-kali, dan merapikan semua buku di rak supaya sejajar.
6)        Phobia
Rasa takut yang berlebihan terhadap hal-hal yang nggak perlu ditakuti.















6.        Gangguan Kepribadian
Adalah gangguan-gangguan dalam perilaku yang memberikan dampak atau penilaian negatif oleh masyarakat.

Ada 3 kelompok umum:
1.        Cluster 1
Gangguan Kepribadian yang bersifat aneh/eksentrik.
a)        Paranoid
o    Ciri utama: perasaan curiga yang berulang, cenderung untuk menginterpretasi perilaku orang lain sebagai hal yang mengancam atau merendahkan.
o    Sangat tidak percaya pada orang lain.
o    Hubungan sosialnya buruk.
o    Masih bisa bekerja.
o    Terlalu sensitif terhadap kritikan nyata atau yang dibayangkan.
b)        Schizoid
o    Kurang berminat atau kurang menyukai hubungan dekat.
o    Hampir secara eksklusif lebih menyukai kesendirian.
o    Kurangnya minat untuk hubungan seks
o    Hanya sedikit, jika ada, mengalami kesenangan
o    Kurang memiliki teman.
o    Bersikap masa bodoh terhadap pujian atau kritik dari orang lain.
o    Afek datar, ketidaklekatan emosional.
c)        Schizotipal
o    Keyakinan yang aneh atau pemikiran magis, percaya terhadap persepsi ekstra indrawi.
o    Persepsi yang tidak biasa, keyakinan yang menyimpang tentang tubuhnya.
o    Pola bicara yang aneh.
o    Kecurigaan yang ekstrem, paranoia
o    Afek yang tidak sesuai
o    Perilaku atau penampilan yang aneh
o    Kurang memiliki teman yang akrab
o    Rasa tidak nyaman yang ekstrem atau kadang kecemasan yang ekstrem bila berada di antara orang lain.






2.        Cluster 2
Gangguan kepribadian yang bersifat dramatik/eratik.
a)        Historik
o    Kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian
o    Perilaku tidak senonoh secara seksual yang tidak pantas.
o    Perubahan ekspresi emosi secara cepat.
o    Memanfaatkan penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain pada dirinya.
o    Bicaranya sangat tidak tepat, penuh semangat mempertahankan pendapat yang kurang memilki detail.
o    Berlebihan, ekspresi emosional yang teatrikal.
o    Sangat mudah disugesti
o    Menyalahartikan hubungan sebagai lebih intim dari yang sebenarnya.
b)        Narsistik
o    Pandangan yang dibesar-besarkan mengenai pentingnya diri sendiri, arogansi.
o    Terfokus pada keberhasilan, kecerdasan, kecantikan diri.
o    Kebutuhan ekstrem untuk dipuja.
o    Perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu.
o    Kecenderungan memanfaatkan orang lain.
o    Iri pada orang lain.
c)        Antisosial
o    Berulang kali melanggar hukum.
o    Menipu, berbohong.
o    Impulsivitas.
o    Mudah tersinggung dan agresiv
o    Tidak memedulikan keselamatan diri sendiri dan orang lain.
o    Tidak bertanggung jawab seperti terlihat dalam riwayat pekerjaan yang tidak reliabel atau tidak memenuhi tanggung jawab keuangan.
o    Kurang memilki rasa penyesalan.
o    Berusia minimal 18 tahun.
o    Terdapat bukti mengenai gangguan tingkah laku sebelum berusia 15 tahun.
o    Perilaku anti sosial yang tidak terjadi secara ekskulsif dalam episode skizofrenia atau mania.
d)        Borderline
o    Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan, terlepas dari benar-benar diabaikan atau hanya dalam bayangan.
o    Ketidakstabilan dan intensitas ekstrem dalam hubungan interpersona, ditandai dengan perpecahan, yaitu mengidealkan orang lain dalam satu waktu dan beberapa waktu kemudian menistakannya.
o    Rasa diri (sense of self ) yang tidak stabil.
o    Perilaku impulsif, termasuk sangat boros dan perilaku seksual yang tidak pantas.
o    Perilaku bunuh diri (baik hanya berupa sinyal maupun sungguh-sungguh mencoba) dan mutilasi diri yang berulang.
o    Kelabilan emosional yang ekstrem.
o    Perasaan kosong yang kronis.
o    Sangat sulit mengendalikan kemarahan.
o    Pikiran paranoid dan simtom-simtom disosiatif yang dipicu oleh strees.

3.        Cluster 3
Gangguan kepribadian yang bersifat anxiety atau pencemas/ketakutan.
a)        Dependent
o    Sulit mengambil keputusan tanpa saran dan dukungan berlebihan dari orang lain.
o    Membutuhkan orang lain untuk mengambil tanggung jawab atas sebagian besar aspek kehidupannya yang utama.
o    Sulit tidak menyetujui orang lain karena takut kehilangan dukungan mereka.
o    Sulit melakukan segala sesuatu sendiri karena kurangnya rasa percaya diri.
o    Melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan sebagai suatu cara untuk mendapatkan persetujuan dan dukungan orang lain.
o    Merasa tidak berdaya bila sendirian karena kurangnya rasa percaya terhadap kemampuannya untuk menangani segala sesuatu tanpa intervensi orang lain.
o    Berupaya untuk sesegera mungkin menjalin hubungan baru bila hubungan yang dimilikinya saat ini berakhir.
o    Dipenuhi ketakutan bila harus mengurus diri sendiri.
b)        Obsesif Kompulsif
o    Terfokus secara berlebihan pada aturan dan detail hingga poin utama suatu aktivitas terabaikan.
o    Perfeksionisme ekstrem hingga ke tingkat yang membuat berbagai proyek jarang terselesaikan.
o    Pengabdian berlebihan pada pekerjaan hingga mengabaikan kesenangan dan persahabatan.
o    Tidak fleksibel tentang moral.
o    Sulit membuang benda-benda yang tidak berarti.
o    Enggan mendelegasikan kecuali jika orang lain dapat memenuhi standarnya.
o    Kikir.
o    Rigid dan keras kepala
c)        G. Kepribadian menghindar
o    Menghindari kontak interpersonal karena takut terhadap kritikan atau penolakan.
o    Keengganan untuk menjalin hubungan dengan orang lain kecuali dirinya pasti akan disukai.
o    Membatasi diri dalam hubungan intim karena takut dipermalukan atau diperolok.
o    Penuh kekhawatiran akan dikritik atau ditolak.
o     Merasa tidak adekuat.
o    Merasa rendah diri.
o    Keengganan ekstrem untuk mencoba hal-hal baru karena takut dipermalukan.
7.        Skizofrenia
Adalah gangguan yang kompleks yang dapat muncul dalam beberapa bentuk.

Ada 2 kategori gejala:
·         Gejala positif
Gejala tipe I  ditandai munculnya persepsi, pikiran, dan perilaku yang tidak biasa secara menonjol, misalnya: halusinasi, delusi, pikiran dan pembicaraan kacau, dan perilaku katatonik.
·         Gejala Negatif
Gejala tipe II  ditandai hilangnya atau berkurangnya kemampuan di area tertentu, misalnya tidak munculnya perilaku tertentu, afek datar, dan alogia (tidak mau bicara).
Selain gejala2 tsb, terdapat beberapa ciri lain skizofrenia, yang sebenarnya bukan kriteria formal untuk diagnosa namun sering muncul sebagai gejala, yaitu:
·         Afek yang tidak tepat (mis. Tertawa saat sedih dan menangis saat bahagia.
·         Anhedonia (kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi ttt, apapun yang dialami tidak dapat merasakan sedih atau gembira), dan
·         Ketrampilan sosial yang terganggu (mis. kesulitan memulai pembicaraan, memelihara hubungan sosial, dan mempertahankan pekerjaan).
BEBERAPA GEJALA POSITIF SKIZOFRENIA
GEJALA DEFINISI & CONTOH:
·          DELUSI, yaitu Kepercayaan yang tidak sesuai realita; mis. Merasa dirinya Nabi
·          HALUSINASI, yaitu pengalaman indrawi yang tidak nyata; mis. Merasa melihat, mendengar, atau membaui sesuatu yang sebenarnya tidak ada
·          PIKIRAN DAN BICARA KACAU, yaitu Pola bicara yang kacau; mis. ‘tidak nyambung’, menyambung kata berdasar bunyinya yang tidak ada artinya
·          PERILAKU KACAU ATAU KATATONIK, yaitu perilaku sangat tidak dapat diramalkan, aneh, dan sangat tidak bertanggung jawab; mis. Tidak bergerak sama sekali dalam waktu lama, tiba-tiba melompat-lompat tanpa tujuan.
·          Delusi sendiri ada beberapa tipe, lihat PPDGJ III.
BEBERAPA GEJALA NEGATIF SKIZOFRENIA
GEJALA DEFINISI & CONTOH
·          AFEK DATAR, secara emosi tidak mampu memberi respon thd lingkungan sekitarnya. Mis: Ketika bicara ekspresi tidak sesuai, tidak ada ekspresi sedih ketika situasi sedia.
·          ALOGIA, tidak mau bicara atau minimal. Mis: Membisu beberapa hari.
·          AVOLITION, tidak mampu melakukan tugas berdasar tujuan tertentu (dalam jangka lama). Mis: Tidak mampu mandi sendiri, makan sampai selesai, dll.