Selasa, 13 Desember 2011

Rangkuman Perkuliahan Psikopatologi Semester 3


Materi perkuliahan ini hanya sebatas pengertian dan subtipe-subtipe dari beberapa gangguan yang menjadi materi perkuliahan di semester tiga. 



Psikopatologi
1.        RM (Retardasi Mental)
Adalah suatu keadaan perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap atau mungkin juga tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak seusianya. Biasanya ditandai dengan oleh adanya ketidakberdayaan keterampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat inteligensi anak itu sendiri yaitu pada kemampuan kognitif, bahasa, motorik dan sosial anak.
Bukan suatu penyakit, melainkan suatu kondisi yang timbul pada usia dini (biasanya sejak lahir) dan menetap sepanjang hidup individu tersebut.


2.        CD & ODD

a.        Oppositional Defiant Disorder (ODD)
Adalah pola tingkah laku berulang yang negatif, menantang, dan tidak taat. Anak yang menderita Oppositional defiant disorder adalah keras kepala, sulit diatur, dan tidak patuh tanpa menjadi agresif secara fisik atau benar-benar mengganggu orang lain. Banyak anak yang belum sekolah dan anak pra remaja kadangkala menunjukkan tingkah laku yang melawan, tetapi
Ciri khas tingkah laku pada anak yang menderita Oppositional defiant disorder termasuk berdebat dengan orang dewasa; menjadi marah ; secara aktif menentang aturan dan perintah; menyalahkan orang lain untuk kesalahan mereka sendiri; dan menjadi marah, sebal, dan mudah jengkel. Anak ini tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah dan merasa bersalah jika mereka melakukan sesuatu yang sangat salah.

b.        Conduct Disorder (CD)
Adalah pola perilaku yang berulang dan terus-menerus di mana hak-hak orang lain dan norma/aturan dilanggar, yang dimanifestasikan oleh adanya 3 atau lebih kriteria di bawah ini dalam waktu 12 bulan, dan sekurang-kurangnya 1 kriteria yang muncul dalamwaktu 6 bulan.


3.        Gangguan Penyesuaian
Adalah gangguan psikologis yang paling ringan dan merupakan suatu reaksi maladaptive (tidak bereaksi terhadap lingkungan) suatu stressor yang dikenali dan berkembang beberapa bulan sejak munculnya stressor. Reaksi maladaptive terlihat dari adanya hendaya yang bermakna (signifikan) dalam fungsi sosial, pekerjaan, akademis, atau adanya kondisi distress emosional yang melebihi batas normal.


4.        Gangguan Somatoform
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis.


a)        Gangguan Nyeri
Pada pain disorder, penderita mengalami rasa sakit yang mengakibatkan ketidakmampuan secara signifikan;faktor psikologis diduga memainkan peranan penting pada kemunculan, bertahannya dan tingkat sakit yang dirasakan. Pasien kemungkinan tidak mampu untuk bekerja dan menjadi tergantung dengan obat pereda rasa sakit. Rasa nyeri yang timbul dapat berhubungan dengan konflik atau stress atau dapat pula terjadi agar individu dapat terhindar dari kegiatan yang tidak menyenangkan dan untuk mendapatkan perhatian dan simpati yang sebelumnya tidak didapat.

b)        Gangguan Dismorfik Tubuh
Pada body dysmorphic disorder, individu diliputi dengan bayangan mengenai kekurangan dalam penampilan fisik mereka, biasanya di bagian wajah, misalnya kerutan di wajah, rambut pada wajah yang berlebihan, atau bentuk dan ukuran hidung. Wanita cenderung pula fokus pada bagian kulit, pinggang, dada, dan kaki, sedangkan pria lebih cenderung memiliki kepercayaan bahwa mereka bertubuh pendek, ukuran penisnya terlalu kecil atau mereka memiliki terlalu banyak rambut di tubuhnya (Perugi dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Beberapa individu yang mengalami gangguan ini secara kompulsif akan menghabiskan berjam-jam setiap harinya untuk memperhatikan kekurangannya dengan berkaca di cermin. Ada pula yang menghindari cermin agar tidak diingatkan mengenai kekurangan mereka, atau mengkamuflasekan kekurangan mereka dengan, misalnya, mengenakan baju yang sangat longgar (Albertini & Philips daam Davidson, Neale, Kring, 2004).

c)        Hipokondriasis
Hypochondriasis adalah gangguan somatoform dimana individu diliputi dengan ketakutan memiliki penyakit yang serius dimana hal ini berlangsung berulang-ulang meskipun dari kepastian medis menyatakan sebaliknya, bahwa ia baik-baik saja. Gangguan ini biasanya dimulai pada awal masa remaja dan cenderung terus berlanjut. Individu yang mengalami hal ini biasanya merupakan konsumen yang seringkali menggunakan pelayanan kesehatan; bahkan terkadang mereka manganggap dokter mereka tidak kompeten dan tidak perhatian (Pershing et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Dalam teori disebutkan bahwa mereka bersikap berlebihan pada sensasi fisik yang umum dan gangguan kecil, seperti detak jantung yang tidak teratur, berkeringat, batuk yang kadang terjadi, rasa sakit, sakit perut, sebagai bukti dari kepercayan mereka. Hypochondriasis seringkali muncul bersamaan dengan gangguan kecemasan dan mood.

d)        Conversion disorder
Pada conversion disorder, gejala sensorik dan motorik, seperti hilangnya penglihatan atau kelumpuhan secara tiba-tiba, menimbulkan penyakit yang berkaitan dengan rusaknya sistem saraf, padahal organ tubuh dan sistem saraf individu tersebut baik-baik saja. Aspek psikologis dari gejala conversion ini ditunjukkan dengan fakta bahwa biasanya gangguan ini muncul secara tiba-tiba dalam situasi yang tidak menyenangkan. Biasanya hal ini memungkinkan individu untuk menghindari beberapa aktivitas atau tanggung jawab atau individu sangat ingin mendapatkan perhatian. Istilah conversion, pada dasarnya berasal dari Freud, dimana disebutkan bahwa energi dari instink yang di repress dialihkan pada aspek sensori-motor dan mengganggu fungsi normal. Untuk itu, kecemasan dan konflik psikologis diyakini dialihkan pada gejala fisik.

e)        Gangguan Somatisasi
Menurut DSM-IV-TR kriteria dari somatization disorder adalah memiliki sejarah dari banyak keluhan fisik selama bertahun-tahun; memiliki 4 gejala nyeri, 2 gejala gastrointestinal, 1 gejala sexual, dan 1 gejala pseudoneurological; gejala-gejala yang timbul tidak disebabkan oleh kondisi medis atau berlebihan dalam memberikan kondisi medis yang dialami.
Prevalensi dari somatiation disorder diperkirakan kurang dari 0.5% dari populasi Amerika, biasanya lebih sering muncul pada wanita, khususnya wanita African American dan Hispanic (Escobar et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004) dan pada pasien yang sedang menjalani pengibatan medis. Prevalensi ini lebih tinggi pada beberapa negara di Amerika Selatan dan di Puerto Rico (Tomassson, Kent&Coryell dalam Davidson, Neale, Kring, 2004). Somatizaton disorder biasanya dimulai pada awal masa dewasa (Cloninger et al., dalam Davidson, Neale, Kring, 2004).















5.        Gangguan Kecemasan
Adalah saat dimana individu tidak dapat meredam (merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyakan orang mampu menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.

6 Bentuk gangguan kecemasan:
1)        Generalized Anxiety Disorder (GAD)
Ciri-ciri umumnya sih sebenernya sama kayak cemas biasa. Yang bikin beda adalah, penderita generalized anxiety disorder cemasnya terus menerus. Hampir sepanjang hari dia habiskan untuk mencemaskan hal-hal yang sebenarnya nggak perlu. Akibatnya, dia jadi nggak bisa menjalankan hidup dengan normal. Boro-boro mau mikirin pelajaran, tiap saat otaknya selalu dipenuhi pikiran-pikiran buruk yang bikin dia selalu khawatir.
2)        Social Anxiety Disorder (SAD)
Disebut juga social phobia, orang yang mengidap gangguan ini bakal ngerasa takut banget kalo harus berinteraksi dengan orang lain. Dia takut dicap buruk oleh orang lain dan dipermalukan di depan umum. So, dia lebih memilih menghindar dari lingkungannya.
3)        Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)
Ini adalah gangguan kecemasan yang muncul gara-gara seseorang baru mengalami sebuah peristiwa yang traumatis.
4)        Panic Disorder (PD)
Lagi nggak ngapa-ngapain, tiba-tiba aja lo kena “serangan”. Dada berdegup kencang, kepala pusing, mata berkunang-kunang, nafas jadi sesak, dan merasa seperti mau mati atau mau gila. Itu namanya panic attack. Kalo serangan ini terjadi berulang-ulang, namanya panic disorder.
5)        Obsessive Compulsive Disorder (OCD)
Penderita OCD biasanya ngerasa harus melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas, dan nggak bisa dikontrol. Misalnya, belasan kali mengecek apakah lampu kamar udah dimatikan atau belum. Atau mencuci tangan berkali-kali, dan merapikan semua buku di rak supaya sejajar.
6)        Phobia
Rasa takut yang berlebihan terhadap hal-hal yang nggak perlu ditakuti.















6.        Gangguan Kepribadian
Adalah gangguan-gangguan dalam perilaku yang memberikan dampak atau penilaian negatif oleh masyarakat.

Ada 3 kelompok umum:
1.        Cluster 1
Gangguan Kepribadian yang bersifat aneh/eksentrik.
a)        Paranoid
o    Ciri utama: perasaan curiga yang berulang, cenderung untuk menginterpretasi perilaku orang lain sebagai hal yang mengancam atau merendahkan.
o    Sangat tidak percaya pada orang lain.
o    Hubungan sosialnya buruk.
o    Masih bisa bekerja.
o    Terlalu sensitif terhadap kritikan nyata atau yang dibayangkan.
b)        Schizoid
o    Kurang berminat atau kurang menyukai hubungan dekat.
o    Hampir secara eksklusif lebih menyukai kesendirian.
o    Kurangnya minat untuk hubungan seks
o    Hanya sedikit, jika ada, mengalami kesenangan
o    Kurang memiliki teman.
o    Bersikap masa bodoh terhadap pujian atau kritik dari orang lain.
o    Afek datar, ketidaklekatan emosional.
c)        Schizotipal
o    Keyakinan yang aneh atau pemikiran magis, percaya terhadap persepsi ekstra indrawi.
o    Persepsi yang tidak biasa, keyakinan yang menyimpang tentang tubuhnya.
o    Pola bicara yang aneh.
o    Kecurigaan yang ekstrem, paranoia
o    Afek yang tidak sesuai
o    Perilaku atau penampilan yang aneh
o    Kurang memiliki teman yang akrab
o    Rasa tidak nyaman yang ekstrem atau kadang kecemasan yang ekstrem bila berada di antara orang lain.






2.        Cluster 2
Gangguan kepribadian yang bersifat dramatik/eratik.
a)        Historik
o    Kebutuhan besar untuk menjadi pusat perhatian
o    Perilaku tidak senonoh secara seksual yang tidak pantas.
o    Perubahan ekspresi emosi secara cepat.
o    Memanfaatkan penampilan fisik untuk menarik perhatian orang lain pada dirinya.
o    Bicaranya sangat tidak tepat, penuh semangat mempertahankan pendapat yang kurang memilki detail.
o    Berlebihan, ekspresi emosional yang teatrikal.
o    Sangat mudah disugesti
o    Menyalahartikan hubungan sebagai lebih intim dari yang sebenarnya.
b)        Narsistik
o    Pandangan yang dibesar-besarkan mengenai pentingnya diri sendiri, arogansi.
o    Terfokus pada keberhasilan, kecerdasan, kecantikan diri.
o    Kebutuhan ekstrem untuk dipuja.
o    Perasaan kuat bahwa mereka berhak mendapatkan segala sesuatu.
o    Kecenderungan memanfaatkan orang lain.
o    Iri pada orang lain.
c)        Antisosial
o    Berulang kali melanggar hukum.
o    Menipu, berbohong.
o    Impulsivitas.
o    Mudah tersinggung dan agresiv
o    Tidak memedulikan keselamatan diri sendiri dan orang lain.
o    Tidak bertanggung jawab seperti terlihat dalam riwayat pekerjaan yang tidak reliabel atau tidak memenuhi tanggung jawab keuangan.
o    Kurang memilki rasa penyesalan.
o    Berusia minimal 18 tahun.
o    Terdapat bukti mengenai gangguan tingkah laku sebelum berusia 15 tahun.
o    Perilaku anti sosial yang tidak terjadi secara ekskulsif dalam episode skizofrenia atau mania.
d)        Borderline
o    Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan, terlepas dari benar-benar diabaikan atau hanya dalam bayangan.
o    Ketidakstabilan dan intensitas ekstrem dalam hubungan interpersona, ditandai dengan perpecahan, yaitu mengidealkan orang lain dalam satu waktu dan beberapa waktu kemudian menistakannya.
o    Rasa diri (sense of self ) yang tidak stabil.
o    Perilaku impulsif, termasuk sangat boros dan perilaku seksual yang tidak pantas.
o    Perilaku bunuh diri (baik hanya berupa sinyal maupun sungguh-sungguh mencoba) dan mutilasi diri yang berulang.
o    Kelabilan emosional yang ekstrem.
o    Perasaan kosong yang kronis.
o    Sangat sulit mengendalikan kemarahan.
o    Pikiran paranoid dan simtom-simtom disosiatif yang dipicu oleh strees.

3.        Cluster 3
Gangguan kepribadian yang bersifat anxiety atau pencemas/ketakutan.
a)        Dependent
o    Sulit mengambil keputusan tanpa saran dan dukungan berlebihan dari orang lain.
o    Membutuhkan orang lain untuk mengambil tanggung jawab atas sebagian besar aspek kehidupannya yang utama.
o    Sulit tidak menyetujui orang lain karena takut kehilangan dukungan mereka.
o    Sulit melakukan segala sesuatu sendiri karena kurangnya rasa percaya diri.
o    Melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan sebagai suatu cara untuk mendapatkan persetujuan dan dukungan orang lain.
o    Merasa tidak berdaya bila sendirian karena kurangnya rasa percaya terhadap kemampuannya untuk menangani segala sesuatu tanpa intervensi orang lain.
o    Berupaya untuk sesegera mungkin menjalin hubungan baru bila hubungan yang dimilikinya saat ini berakhir.
o    Dipenuhi ketakutan bila harus mengurus diri sendiri.
b)        Obsesif Kompulsif
o    Terfokus secara berlebihan pada aturan dan detail hingga poin utama suatu aktivitas terabaikan.
o    Perfeksionisme ekstrem hingga ke tingkat yang membuat berbagai proyek jarang terselesaikan.
o    Pengabdian berlebihan pada pekerjaan hingga mengabaikan kesenangan dan persahabatan.
o    Tidak fleksibel tentang moral.
o    Sulit membuang benda-benda yang tidak berarti.
o    Enggan mendelegasikan kecuali jika orang lain dapat memenuhi standarnya.
o    Kikir.
o    Rigid dan keras kepala
c)        G. Kepribadian menghindar
o    Menghindari kontak interpersonal karena takut terhadap kritikan atau penolakan.
o    Keengganan untuk menjalin hubungan dengan orang lain kecuali dirinya pasti akan disukai.
o    Membatasi diri dalam hubungan intim karena takut dipermalukan atau diperolok.
o    Penuh kekhawatiran akan dikritik atau ditolak.
o     Merasa tidak adekuat.
o    Merasa rendah diri.
o    Keengganan ekstrem untuk mencoba hal-hal baru karena takut dipermalukan.
7.        Skizofrenia
Adalah gangguan yang kompleks yang dapat muncul dalam beberapa bentuk.

Ada 2 kategori gejala:
·         Gejala positif
Gejala tipe I  ditandai munculnya persepsi, pikiran, dan perilaku yang tidak biasa secara menonjol, misalnya: halusinasi, delusi, pikiran dan pembicaraan kacau, dan perilaku katatonik.
·         Gejala Negatif
Gejala tipe II  ditandai hilangnya atau berkurangnya kemampuan di area tertentu, misalnya tidak munculnya perilaku tertentu, afek datar, dan alogia (tidak mau bicara).
Selain gejala2 tsb, terdapat beberapa ciri lain skizofrenia, yang sebenarnya bukan kriteria formal untuk diagnosa namun sering muncul sebagai gejala, yaitu:
·         Afek yang tidak tepat (mis. Tertawa saat sedih dan menangis saat bahagia.
·         Anhedonia (kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi ttt, apapun yang dialami tidak dapat merasakan sedih atau gembira), dan
·         Ketrampilan sosial yang terganggu (mis. kesulitan memulai pembicaraan, memelihara hubungan sosial, dan mempertahankan pekerjaan).
BEBERAPA GEJALA POSITIF SKIZOFRENIA
GEJALA DEFINISI & CONTOH:
·          DELUSI, yaitu Kepercayaan yang tidak sesuai realita; mis. Merasa dirinya Nabi
·          HALUSINASI, yaitu pengalaman indrawi yang tidak nyata; mis. Merasa melihat, mendengar, atau membaui sesuatu yang sebenarnya tidak ada
·          PIKIRAN DAN BICARA KACAU, yaitu Pola bicara yang kacau; mis. ‘tidak nyambung’, menyambung kata berdasar bunyinya yang tidak ada artinya
·          PERILAKU KACAU ATAU KATATONIK, yaitu perilaku sangat tidak dapat diramalkan, aneh, dan sangat tidak bertanggung jawab; mis. Tidak bergerak sama sekali dalam waktu lama, tiba-tiba melompat-lompat tanpa tujuan.
·          Delusi sendiri ada beberapa tipe, lihat PPDGJ III.
BEBERAPA GEJALA NEGATIF SKIZOFRENIA
GEJALA DEFINISI & CONTOH
·          AFEK DATAR, secara emosi tidak mampu memberi respon thd lingkungan sekitarnya. Mis: Ketika bicara ekspresi tidak sesuai, tidak ada ekspresi sedih ketika situasi sedia.
·          ALOGIA, tidak mau bicara atau minimal. Mis: Membisu beberapa hari.
·          AVOLITION, tidak mampu melakukan tugas berdasar tujuan tertentu (dalam jangka lama). Mis: Tidak mampu mandi sendiri, makan sampai selesai, dll.

Rabu, 30 November 2011

Dasar pengukuran psikologis

Dasar pengukuran psikologis 
Adalah dasar cara mengukur psikologis seseorang. bagaimana anda mengukur psikologis anda. disini cara anda mengukur bagaimana psikologis anda. baca di bawah ini.


BAB I
PEMBAHASAN

Segala sesuatu yang dipersoalkan dalam psikologi termasuk aspek-aspek psikologis atau atribut-atribut psikologis itu bersifat kualitatif. Atribut-atribut psikologis itu tidak mempunyai eksistensi riil, sehingga tidak dapat dikaji atau diketahui secara langsung, melainkan hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui gejalanya atau tampilannya(manifestasinya). Didalam tampilannya atau manifestasi itu sengaja ditimbulkan lalu dikuantifikasikan. Pembahasan lebih lanjutnya adalah:

A. KUANTIFIKASI ATRIBUT PSIKOLOGI
Contoh atribut-atribut psikologis yaitu mottivasi, minat, intelegensi, bakat, kemampuan bahasa inggris dan lain-lain kesemuanya itu adalah hal-hal yang bersifat kualitatif. Dalam suatu pengukuran hal-hal yang bersifat kualitatif itu dikuantifikasikann sehingga diperoleh berbagai keuntungan dan juga beberapa keterbatasan.
 
1. Keuntungan dan keterbatasan pendekatan kuantitatif
Keuntungan Pendekatan Kuantitatif
Dengan penerapan pendekatan kuantitatif, maka atribut-atribut psikologi yang aslinya bersifat kualitatif dikuantifikasikan, dan dengan cara ini diperoleh keuntungan-keutungan sebagai berikut :
 
1. Apabila atribusi psikologis telah dikuantifikasikan maka dia dapat dideskripsikan dengan jelas dan tepat, dan dengan demikian salah satu fungsi ilmu pengetahuan, yaitu mendeskripsikan fenomena dapat dilaksanakan dengan baik.
2. Dengan pendekatan kuantitatif itu ilmuan dipaksa mengikuti tata pikir dan tata kerja yang tertib, konsisiten, dan terbuka hal ini diperlukan guna memajukan ilmu pengetahuan baik dari segi teori maupun pengamalannya.
3. Apabila atribusi psikologis telah dikuantifikasikan, mungkin akan dianalisis dengan metode matematis(statistik) yang dalam ilmu pengetahuan diakui sebagai metode yang sangat kuat
4. Ilmuan dapat membuat prediksi mengenai bidang garapannya.
5. Derajat komunikabilitas menjadi tinggi, karena sebagai kegiatan yang terbuka untuk umum setiap pernyataan yang dikemukakan oleh seorang ilmuan harus dapat diuji ulang oleh ilmuan lain, dan hal ini sangat dipermudah kalau hal-hal yang dipersoalkan disajikan secara kuantitatif.
 
Keterbatasan pendekatan kuantitatif
Disamping keuntungan-keuntungan yang dimiliki, pendekatan kuantitatif jugan mempunyai keterbatasan, diantara keterbatasan utamanya adalah bahwa hasil kuantifikasi itu tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Data awal berupa data kuantitatif yang kemudian diolah, dianalisis dan diatur menurut kehendak ilmuan, jadi apabila data awalnya adalah data yang tidak mencerminkan data yang sebenarnya maka hasil analisis dan kesimpulannya akan tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan seberapa besar penyimpangan dari keadaan yang sebenarnya itu tidak dapat dideteksi.

2. Model Teoritis
Proses kuantifikasi harus bisa menjamin data yang dihasilkan mencerminkan keadaan yang sebenarnya, untuk itu sangat diperlukan suatu alat ukur yang dapat menjamin tercapainya kesesuaian antara data kauntitatif dan keadaan psikologis atribut psikologi yang diwakilinya. Didalam alat-alat psikologi yang penting untuk proses kuantifikasi itu, tersedia modelnteoritis ynag mendasaria perkembangan alat ukur psikologis itu. Dalam perkembangan model teoritisnya data yang digunakan terbatas pada : data hasil pengukuran hasil belajar, menggunakan alat non projektif, diselenggarakan secara kelompok, dan menggunakan pendekatan acuan norma.
 
a. Data pengukuran hasil belajar
Hasil belajar termasuk dalam kelompok atribut kognitif, yang ”Respon” hasil pengukuranya tergolong pendapat, yaitu respon yang dinyatakan benar apa salah.
 
b. Alat ukur non projektif
Pengukuran hasil belajar tidak menuntut terjadinya mekanisme projeksi, oleh karena itu materi alat ukurnya adalah meteri non projektif
 
c. Penyelenggarakn secara kelompok
data yang dikumpulkan diperoleh dari sekelompok subjek yang diperlukan secara sama. Karena sifatnya yang demikian maka data yang diperoleh dapat cukup banyak.
 
d. Pendekatan acuan norma
Hasil belajar suatu populasi subjek diasumsikan berdistribusi normal. Dan ini cocok dengan pendekatan acuan normal.dalam pendekatan ini tujuan pengukuran adalah untuk menentukan kedudukan relative masing-masing subjek didalam kelompoknya. Dengan pendekatan acuan normal ini diperoleh dua keuntungan penting dalam pengukuran psikologis, yaitu :
• Dapat diterapkan teori probabilitas
• Diperolehnya dasar untuk menyatakan adanya hubungan reclinear antara besaran hal ynag diukur dengan skor hasil pengukuran.

Data yang seperti diatas itulah yang digunakan untuk menyusun model teoritis pengukuran psikologis. Dewasa ini ada dua macam teori tentang pengukuran psikologis itu, yaitu teori tes klasik dan teoir tes modern

B. TES KLASIK
Teory tes klasik disebut demiokian, karena unsure-unsur teory itu sudah dikembangkan dan diaplikasikan sejak lama, namun tetap bertahan, lebih-lebih kalau dilihat dari arah penerapannya diberbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu teory ini dianggap sebagai hasil karya klasik teory tes klasik tidak tersusun sekali jadi, melainkan berkembang sedikit demi sedikit melalui unsure-unsur yang kemudian secara akumulatif merupakan bangunan teory yang utuh. Inti teory tes klasik itu berupa asumsi-asumsi yang dirumuskan secara sistematis. Modelnya disebut model skor murni(true skor model). Ada 7 macam asumsi dalam teory tes klasik itu.

1. Asumsi teory tes klasik
Asumsi 1: Xt = X. + Xe
Skor perolehan(Xt) terdiri dari skor murni (X.) dan skor kesalahan pengukuran (Xe).jadi skor yang diperoleh dari suatu pengukuran pada uumnya tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Skor perolehan pada umumnya meleset dari menampilkan secara tepat besaran atribut yang diukur. Melesetnya skor perolehan dari keadaan yang sebenarnya (yaitu skor murni X.)merupakan kesalahan pengukuran (error of measurement)
 
Asumsi 2 :ε (Xt) = X.
Nilai harapan skor diperoleh = ε (Xt) sama dengan skor murni. Asumsi 2 ini merupakan definisi skor murni (Xt). Skor murni itu adalah nilai rata-rata skor perolehan teoritis sekiranya dilakukan pengukuran yang berulang –ulang (sampai tak terhinggga) terhasdap seseorang dengan menggunakan alat ukur yang sama. Syarat pokok dalam pengukuran yang satu harus bebas dari hasil pengukuran yang lain .
 
Asumsi 3 Ρx●xe=0
Skor murni dan skor kesalahan yang divapai oleh suatu populasi subyek pada sautu tes tidak berkolerasi satu sama lain. jadi jadi tidak ada hubungan sistematik antara skor murni dan skor kesalahan. Subyek yang tinggi skor murninnya tidak mesti mempunyai skor kesalahan (baik positif maupun negative) yang lebih tinggi disbanding subyek yang rendah skor murninnya.
 
Asumsi 4 ρXe1 Xe2=0
Skor-skor kesalahan pada 2 tes (yang dimaksud untuk mengukur hal yang sama ) tidak saling berkorelasi. Jika seseorang mempunyai skor kesalahan positif pada tes 1, maka skor kesalahan pada tes 2 tidak tentu positif. Asumsi ini akan tidak terpenuhi sekiranya skor perolehan dipengaruhio kondisi testing.
 
Asumsi 5: ρXe1 X.2=0
Jika ada 2 tes yang dimaksudkan untuk pengukuran atribut yang sama, maka skor-skor kesalahan pada tes 1(Xe1) tidak berkorelasi dengan skor-skor murni pada tes 2(X.1)
 
Asumsi 6
Jika dua perangkat tes (yang dimaksudkan untuk mengukur atribut yang sama) mempunya skor perolehan Xt dan Xt’ yang memenuhi asumsi –asumsi 1 sampai 5, dan jika setiap populasi subyek X. =X.’ dan σe² = σe’’², maka kedua tes itu disebut tes pararel. Jadi dua perangkat tes akan merupakan tes perarel kalu skor –skor suatu populasi yang menempuh kedua tes itu skor murninya sama (X. =X.)dan varian skor kesalahannya sama σe² = σe’’²
 
Asumsi 7
Jika dua perangkat tes (yang dimaksud untuk atribut yang sama) mempunyai skor-skor perolehanX11 dan X12 yang subyek X.=X.2+C12 adalah suatu konstanta, maka kedua perangkat tes itu disebut tes-tes yang setara (equivalen test)
 
2. Kesimpulan-kesimpulan teory tes klasik
Teory tes klasik, yang dirumuskan dalam bentuk asumsi-asumsi seperti yang telah disajikan dimuka, memungkinkan penarikan atau penjabaran sejumlah kesimpulan. Hanya sebagaian saja dari kesimpulan-kesimpulan itu yang disajikan disini, dipilih terutama yang berkaitan langsung dengan pengembangan alat ukur psikologis.
 
  • Kesimpulan 1: ε = (Xe)=0
Nilai harapan skor-skor kesalahan seorang subyek = 0. jika seseorang dites denga suatu tes yang sam berulang-ulang (sampai tidak terthingga) maka rata-rata skor-skor kesalahannya akan sama dengan 0. karena skor-skor kesalahan terjadi secara acak, maka yang meleset ke atas dan meleset kebawah akan saling meniadakan satiu sama lain.
  • Kesimpulan 2 : ε = (XeX.)=0
Nilai harapan hasil skor-skor kesalahan dan skor-skor murni sama dengan 0. kovarians antara skor kesalahan dan skor murni, yang sama dengan ε (XeX.) ε (Xe) ε(X.) juga sama dengan 0
  • Kesimpulan 3 :σ = σ + σ
Varians skor-skor perolehan sama dengan varians skor-skor murni ditambah varians skor-skor kesalahan. Jika skor perolehan, skor murni, dan skor kesalahan suatu populasi pada suatu tes diperoleh, maka varians skor-skor perolehan (yang sering juga disebut varians total )akan sama dengan varians skor-skor murni ditambah varians skor-skor kesalahan.
  • Kesimpulan 4
Kuadrat korelasi antara skor-skor perolehan san skor-skor murni sama dengan nisbah antara varians skor-skor murni dan varians skor-skor perolehan. Kesimpulan ini kemudian menjadi sangat penting dalam pembicaraan tentang reabilitas tes.
  • Kesimpulan 5
Kuadrat korelai antara skor-skor perolehan dengan skor-skor murni sama dengan 1 dikurangi nisbah antara varians skor-skor kesalahan dengan varians skor-skor perolehan. Kesimpulan ini sebenarnya membicarakan hal yang sama dengan yang dibicarakan kesimpulan 4.
  • Kesimpulan 6
Korelais antara skor-skor pada 2 tes pararel sama dengan nisbah antara varians skor-skor murni dan skor-skor perolehan ditentukan berdasarkan tes yang manapun.
  • Kesimpulan 7
Korelasi antara skor-skor pada 2 tes pararel sama dengan 1 dikurangi nisbah antara varians skor-skor kesalahan dengan varians skor-skor perolehan.
Demikianlah beberapa kesimpulan yang ditarik atau dijabarkan dari teory tes klasik. Walau diakui teory tes klasikmengandung keterbatasan, namun dalam kenyataananya teory ini masih bertahan sebagai dasar pengembangan tes dimana-mana.

C. Teori Tes Modern
Kelemahan utama teori tes klasik adalah bahwa alat ukur yang disusun berdasarkan teori tes klasik itu terikat kepada semua sampel (sample bound). Jika seperangkat tes diberikan kepada kelompok subyek yang rendah kemapuanya akan merupakan tes yang sukar, dan apabila diberikan kelompok subyek yang tinggi kemapuanya akan merupakan tes yang mudah. Oleh karena itu upaya-upaya yang dilakukan para ahli adalah untuk membebaskan alat ukur itu dari keterikatanya kepada sampel (sample-free); seperti diketahui alat ukur fisik, misalnya alat ukur panjang, alat ukur berat, semuanya tidak terikat kepada sampel.
 
1. Dasar Pikiran pada Teori Tes Modern
Teori tes yang mendasarkan diri pada sifat-sifat atau kemapuan yang laten, yang mendasari kinerja atau respon subyek terhadap butir soal tertentu. Karena itu teori ini disebut mengunakan model sifat laten. Nama yang lebih popular adalah teori respon butir soal atau item respon theory (IRT). Teori respon butir soal itu berdasarkan dua postulat, yaitu:
 
a) Kinerja seorang subyek pada butir soal dapat diprediksikan dari suatu perangkat factor-faktor yang disebut sifat-sifat, atau sifat-sifat laten, atau kemapuan
b) Hubungan antara kinerja subyek pada suatu butir soal dan perangkat sifat-sifat yang mendasari kinerja itu dapat di deskripsikan dengan fungsi meningkat secara monotonic yang disebut karakteristik butir soal atau kurve karakteristik butir soal.
 
2. Asumsi-Asumsi Pada Teori Tes Modern
Suatu asumsi-asumsi yang umum digunakan secara luas oleh model-model IRT ialah bahwa hanya satu kemampuan yang diukur oleh butir-butir soal yang merupakan seperangkat tes. Hal ini disebut asumsi unidimensionalitas. Suatu konsep lain yang langsung berkaitann dengan unidimensionalitas adalah ketidaktergantungan local. Asumsi lain yang dibuat dalam semua model IRT adalah bahwa fungsi karakteristik butir soal tertentu merefleksikan butir soal tertentu merefleksikan hubungan yang sebenarnya antara variable-variable yang tidak dapat di observasi dengan variable-variabel yang dapat di observasi yaitu respon terhadap butir soal.
 
3. Model-model Yang Populer Dalam Teori Respons Butir Soal
Secara teori dapat disusun model-model IRT yang sangat besar jumlahnya, namun didalam praktek hanya tiga model yang popular, yaitu:
a) Model logistic atau parameter
b) Model logistic dua parameter
c) Model logistic tiga parameter
D. Reliabilitas Alat Ukur
 
Reliabilitas alat ukur menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hal ini ditunjukkan oleh taraf keajegan (konsistensi) skor yang diperoleh para subyek yang diukur dengan alat yang sama, atau diukur dengan alat yang setaara pada kondisi yang berbeda. Dalam arti yang lebh luas reliabilitas adalah alat ukur menunjuk kepada sejauh mana perbedaan-perbedaan skor perolehan itu mencerminkan perbedaan-perbedaan atribut yang sebenarnya. Hal inilah yang menuntun kepada definisi dasar reliabilitas tes, yaitu:
σ.2

σ t 2
 
Reliabilitas tes adalah proporsi varians skor perolehan yang merupakan varians skor murni, jadi kembali kepada uraian terdahulu, bahwa Xt = X. + Xe skor perolehan terdiri dari skor murni dan kekeliruan pengukuran serta, σ t2 = σ.2 + σe2 , varians skor perolehan (varians total) σ .2 ditambah varians kekeliruan pengukuran σe2. Karena realibilitas alat ukur itu berkenaan dengan derajat konsistensi atau kesamaan antara dua perangkat skor, maka dia dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi (r).
 
Estimasi Reliabilitas
Reliabilitas alat ukur yang juga menunjukkan derajat kekeliruan pengukuran tak dapat ditentukan dengan pasti, melainkan hanya dapat diestimasi. Ada tiga pendekatan dala mengestimasi reliabilitas alat ukur itu, yaitu (a) pendekatan tes ulang
(b) pendekatan dengan tes paralel, dan
(c) pendekatan satu kali pengukuran.
 
1. Pendekatan Tes Ulang
Suatu perangkat tes diberikan kepada sekelompok subjek dua kali, dengan menghitung korelasi antara skor pada testing I dan skor pada testing II, jadi rtt = rI.II. Pendekatan ini secara teori baik, namun didalam praktek mengandung kelemahan, yaitu bahwa kondisi subjek pada testing II tidak lagi sama dengan kondisi subjek pada testing I, karena terjadinya proses belajar, pengalaman, perubahan motivasi dan sebagainya. Karena itu pada kebanyakan penelitian pendekatan ini tidak digunakan. Pendekatan tes ulang sangat sesuai jika yang dijadikan objek pengukuran adalah keterampilan fisik.
 
2. Pendekatan dengan Tes Paralel
Dua perangkat tes yang paralel, misalnya perangkat A dan perangkat B diberikan kepada sekoelompok subjek. Reliabilitas tes dicari dengan menghitung korelasi antara skor pada perangkat A dan skor pada perangkat B, jadi rtt = rAB. Keterbatasan utama pendekatan ini terletak pada sulitnya menyusun dua perangkat tes yang paralel. Seperti telah diuraikan pada teori tes klasik, bahwa dua perangkat tes akan merupakan dua perangkat tes yang paralel kalau memenuhi sejumlah persyaratan (asumsi). Karena itu dalam praktek pendekatan ini juga tidak banyak digunakan.
 
3. Pendekatan Satu Kali Pengukuran
Seperangkat tes diberikan kepada sekelompopk subjek satu kali, lalu dengan cara terrtentu dihitung setimasi reliabilitas tes tersebut. Pendekatan pengukuran satu kali ini dapat menghindarkan diri dari kesulitan yang timbul dari pendekatan dengan pengukuran ulang maupun pendekaatan dengan tes paralel, oleh karena itu pendekatan ini banyak digunakan. Teknik-teknik estimasi reliabilitas yang akan disajikan berikut ini semuanya menggunakan pendekaatan pengukuran satu kali.

Berbagai Teknik Estimasi Reliabilitas
Seperti telah dikemukakan, definisi dasar reliabilitas adalah
σ.2

σ t 2
karena σ t2 = σ.2 + σe2, maka persamaan mengenai reliabilitas itu dapat diubah menjadi

σt2 – σe2

σ t 2
Berbagai rumus yang dikemukakan oleh para ahli psikometri justru mencari estimasi mengenai varians kekeliruan pengukuran σe2 itu. Ada tujuh teknik yang populer dan banyak digunakan untuk mengestimasi reliabilitas itu, yaitu:
 
1. Teknik Belah Dua
Suatu perangkat tes diberikan kepada kelompok subjek satu kali. Teknik belah dua seriang disebut dengan teknik gasal-genap. Karena kelompok gasal ( ) dijadikan satu dan genap dijadikan satu juga. Estimasi reliabilitas dicari dengan menghitung korelasi skor pada belahan pertama dengan skor pada belahan kedua, . Rumus korelasi


Secara umum dapat dikatakan bahwa makin panjang tes, akan makin tinggi koefisien reliabilitasnya, asalkan soal-soal yan dicakup sama mutunya. Oleh karena itulah rumus spearman-brown itu juga dikenal dengan rumus ramalan.


Keterangan :
koefisien reliabitas tes yang baru
n = berapa kali panjang tes yang baru itu dari panjang tes yang telah ada
koefisien reliabilitas tes yang telah ada
 
2. Rumus Rulon
Rulon (1939) mempersoalkan reliabilitas tes yang telah dibelah menjadi 2 belahan. Jika sekiranya kedua belahan tes itu setara maka secara teori skor seseorang pada perangkat belahan pertama dan skor pada perangkat belahan kedua akan sama. Jika skor-skor pada kedua perangkat itu tidak sama, maka itu terjadi karena kesalahan/ kekeliruan pengukuran. Rumus realibilitas tes sebagai berikut :
Keterangan :
= koefisien reliabilitas
= varian perbedaan skor pada kedua belahan tes (yang dianggap sebagai varians kekeliruan pengukuran
= varians total (skor perolehan)
 
3. Rumus Flanagan
Flanagan menganggap bahwa varians-varians pada perangkat-perangkat belahan tes yang merupakan varians kekeliruan pengukuran.


4. Teknik K
Dengan menggunakan statistic soal mereka mengembangkan teknik-teknik untuk mengestimasi reliabilitas tes yang diterbitkan di psychometrika. Rumus yang mereka ajukan lazimnya di beri momor seperti halnya rumus ini.



5. Teknik K
Rumus K hanya sedikit berbeda dari rumus K . Estimasi varians kekeliruan pengukuran dicari melalui produk rata-rata p kali rata-rata q di kali dengan banyaknya soal, jadi

6. Teknik analisi varians
Dalam karya hoyt itu varians total dianalisis menjadi proposi yang berasal dari peserta tes, proporsi yang berasal dari soal-soal tes, dan sisanya. Rumus :
7. Koefisien alpha